Cerpen ini ditulis menurut pengalaman pribadi di sekolah daerah saya mengajar. Dan cerpen ini Saya ikutkan dalam lomba menulis antar guru di salah satu
Komunitas Guru Menulis di media umum
facebook. Semoga kisah ini sanggup memperlihatkan manfaat buat Bapak Ibu Guru yang sempat membacanya. Berikut ceritanya!
Secarik Kertas yang Bermakna
Penampilannya sangat sederhana, mengenakan seragam seadanya. Bertubuh ideal tidak tinggi dan tidak pendek. Ada suatu hal yang membuatnya unik, Dia selalu mengenakan peci yang tidak biasa dari rekan kelasnya, pandanganku seolah tercuri oleh penampilannya yang sangat langka. Pecinya yang terlihat pudar layaknya sebuah pakaian yang sudah tak berwarna. Karakternya yang baik hati, murah senyum, dan terkadang Dia sering tertidur di dikala Aku menjelaskan di kelasnya. Tapi, Aku sangat terpikat dengan antusiasnya ketika belajar, Dia memperlihatkan semangat yang luar biasa yang membuatku memperlihatkan perhatian padanya.
Pada suatu hari, Aku menjelaskan materi pelajaran di depan kelasnya. Kemudian Aku bertanya kepada semua siswa. Apakah mereka sudah memahami perihal bahan yang sudah Aku jelaskan. Hampir semuanya menjawab,
“Sudah paham, Pak Guru.”
Aku pun mencoba memperlihatkan soal latihan sebagai uji kompetensi. Aku menuliskan soal di papan tulis yang berwarna hitam, meskipun di kelas itu ada papan putih.
Sembari menunggu mereka menuntaskan soal, Aku mendekati siswa yang terlihat masih kebingungan. Ada satu siswa yang mencuri perhatianku, siswa ini menulis di secarik kertas yang mungil, ukurannya setengah dari kertas biasa. Aku mendekati dan menatap matanya yang penuh misteri. Awalnya Aku nampak sedikit kesal, alasannya ialah hanya memakai penggalan kertas untuk menjawab soal latihan yang kuberikan. Aku merasa tersinggung, menyerupai rasanya tidak dihargai oleh siswaku. Tapi, nampaknya itu hanya pikiran negatifku yang membuatku terjerumus dengan ketidaktahuanku yang hanya menebak, tanpa menanyakannya terlebih dahulu. Akhirnya, Aku putuskan untuk melontarkan pertanyaan sederhana, sambil Aku mencoba mengekplorasi persoalan yang mengintimidasinya
.
“Buku kau mana, Jan? Kenapa memakai selembar kertas?”
Begitulah pertanyaan yang kuberikan padanya. Pemilik nama lengkap “Jannatul Hadi” itu telah membuatku bertanya-tanya perihal keadaannya. Dia pribadi menjawab,
“Buku saya habis, Pak Guru.”
Begitulah balasan singkat yang keluar dari bibirnya. Jawabannya yang penuh kejujuran, itu terpancar dari raut wajahnya yang begitu aib dan penuh ketakutan. Dan Aku memerintahkannya untuk memakai buku lain yang dibawanya. Akhirnya, Dia mengeluarkan sebuah buku dari tasnya yang terlihat sangat lusuh. Semakin menambah keperihatinanku kala itu.
Saat Dia membuka tasnya. Aku sedikit kaget, bukunya hanya satu. Itupun terlihat sangat tipis, kertas bukunya sudah habis, dan tersisa hanya beberapa halaman yang masih kosong. Setelah melihat kenyataan pahit yang dialami siswaku. Aku merasa tersentuh, batinku tak tertahankan mencicipi pilu yang mendalam, meskipun tanpa mengeluarkan air mata. Tapi, batinku sangat peka dengan keadaannya. Aku melamun seribu bahasa dan terhenyak dalam keheningan suasana dikala itu. Sepulang dari sekolah Aku berinisiatif untuk membelikannya buku untuk Dia gunakan. Nampaknya, selembar kertas itu membuatku sadar atas nikmat yang selama ini Aku terima. Tapi, tidak semua orang mencicipi nikmat itu.
Keesokan harinya, Aku mencoba memasuki kelasnya sebelum jam pelajaran dimulai. Dan memanggilnya untuk menuju ruanganku. Setelah duduk berhadapan di ruangan, Aku melontarkan pertanyaan,
“Jan, kau sudah beli buku?”
Dia pribadi menjawab
“Belum Pak, Saya belum punya uang.”
Sambil merunduk malu. Mendengar balasan itu, Aku pribadi mengeluarkan buku dari tasku dan pribadi memberinya. Buku itu berjumlah satu lusin beserta satu buah bolpoin. Dia pun tersenyum dengan besar hati seraya mengucapkan
“Terima kasih, Pak Guru.”
Dan, Aku pun memerintahkannya untuk segera masuk ke kelas dan mengikuti pelajaran pada hari itu.
Alhamdulillah karya ini sudah masuk cetak dalam buku “Kapur dan Papan Kisah Inspiratif Guru”
Demikianlah kisah singkat perihal keadaan salah satu siswa di daerah saya mengajar yaitu MTs Nahdlatus Shaufiah Wanasaba, Kecamatan Wanasaba, Kabupaten Lombok Timur, NTB. Semoga kisah singkat ini sanggup memperlihatkan manfaat dan sanggup menginspirasi Bapak Ibu Guru untuk tetap peduli dan membuatkan kepada siswa yang membutuhkan.